Pro dan Kontra Kantor Open Office

kantor, office, open office, kantor open office, kantor terbuka

Pro dan kontra terhadap kantor berkonsep open office – Bekerja di kantor yang berkonsep open office berarti meniadakan sekat-sekat yang ada, sehingga diharapkan  setiap karyawan bisa tahu pekerjaan satu sama lainnya. Itulah manfaat yang utama, yaitu tentang keterbukaan.

Menurut Joshua Siregar, Marketing Director Dale Carnegie, dengan keterbukaan memungkinkan penyampain informasi menjadi lebih lancar dan juga cepat diterima oleh pihak yang berkepentingan. Sehingga, seandainya terjadi masalah bisa terdeteksi lebih awal serta dapat diatasi dengan cepat pula.

Ketika bekerja didalam sebuah team, teori kantor open office dirasa bisa lebih menguatkan kerja sama team, lantaran ada tuntutan setiap orang untuk mengetahui pekerjaan orang lain serta peduli satu sama lain. Dengan begitu, informasi jadi lebih terbuka dan juga komunikasi jauh jadi lebih  baik.

“Secara tidak langsung, konsep open office akan meniadakan batasan birokrasi. Pada kantor konvensional yang mengusung konsep cubicle, karyawan harus menghampiri atasannya terlebih dahulu untuk izin keluar kantor, contohnya. Namun, jika di kantor yang tanpa ada sekat, karyawan yang  ingin keluar kantor bisa saja berkata kepada atasannya dengan suara lebih lantang sehingga bisa didengar oleh karyawan lainnya,” kata Joshua.

Selain itu, bagi seorang manajer, konsep kantor terbuka juga memberikan manfaat dalam hal mengoordinasikan pekerjaan yang dapat dilakukan secara informal sehingga bisa kapan saja. Dari segi pengawasan pun juga bisa menjadi lebih mudah karena manajer bisa melihat secara langsung anggota teamnya. “Hal ini dirasa bisa memberikan efek yang baik untuk sebuah team karena satu sama lain saling tahu. Tidak ada istilah itu pekerjaan dia bukan pekerjaan saya, semua orang didalam team harus saling membantu,” ujar Joshua.

Privasi menjadi isu paling utama dalam kantor dengan konsep terbuka. Menurut Joshua, terdapat dua jenis privasi ketika di kantor, privasi yang berhubungan dengan pekerjaan dan privasi personal. Privasi karena pekerjaan, contohnya, seorang finance yang kesehariannya bekerja dengan angka-angka yang sifatnya rahasia. Dengan tidak adanya sekat atau penghalang, tentu layar komputernya dapat terlihat dengan mudah oleh orang lain. Hal-hal yang seperti ini tentu harus diperhatikan dan harus menemukan solusinya. Misalnya, seorang finance ditempatkan pada posisi yang membelakangi tembok sehingga layar monitornya tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Sedangkan privasi personal adalah privasi yang berhubungan dengan pribadi masing-masing karyawan. Contohnya, mendapatkan panggilan telepon dari orang rumah atau pasangan, pasti tidak nyaman jika bisa didengar orang lain yang ada di sekitarnya. Dengan begitu, perlu ruangan lain yang dapat mengakomodasi hal-hal seperti ini.

Keuntungannya, dengan minimnya privasi personal, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi selama jam kerja bisa berkurang, sehingga jika dikaitkan dengan kinerja ini dapat memberikan nilai plus. Walaupun, hal ini belum terbukti.

Masalah yang sifatnya pribadi bisa saja muncul dalam lingkungan kantor yang berkonsep open office. Mulai dari merasa tidak nyaman berada di dekat orang yang tidak disukai, rekan sebelah meja menata dengan baik barang-barang miliknya serta tidak menghormati batas, hingga suasana kantor yang dianggap terlalu ramai sehingga dapat mengganggu konsentrasi.

“Kantor dengan konsep terbuka bisa dengan mudah menyinggungkan seseorang dengan orang lainnya sehingga aspek like dan juga dislike bisa sangat berpengaruh. Dengan begitu, ketika mengatur penempatan posisi duduk, seorang manajer musti paham tentang dinamika dalam teamnya. Jika menginginkan hasil yang baik, maka harus diatur secara baik pula,” kata Joshua.

Penting untuk diingat bahwa konsep kantor terbuka atau open office tidak sekadar tentang layout ruangan, namun terkait juga dengan pola bekerja. Jika tidak ada penyesuaian, bekerja didalam lingkungan kantor terbuka dapat menyebabkan culture shock.

Konsep kantor open office haruslah sejalan dengan karakter dan budaya perusahaan yang mengusung keterbukaan serta fleksibilitas, formal dan kaku. Bila tidak, maka bisa terjadi benturan nilai yang akan menjadidampak stres tambahan bagi karyawan. Gesekan akan lebih mudah terjadi bila masing-masing pribadi tidak memiliki kemampuan berinsertaaksi yang baik dan juga kedewasaan.

“Caranya bisa melalui coaching serta training yang bisa membantu meningkatkan soft skill seseorang, seperti emotional intelligent hingga interpersonal skill. Dengan kedewasaan dalam bekerja, tentunya konflik atau gesekan yang ada bisa diminimalisir,” tutup Joshua.  (www.femina.co.id)

Iklan

#interior-kantor, #kantor, #kantor-open-office, #kantor-terbuka, #konsep-kantor, #office, #open-office